Sabtu, 30 November 2019

REFORMASI PENDIDIKAN

Pendidikan Islam dalam masa modern, sejak awal abad 20 sampai sekarang, meski mengalami pasang surut, tetap bertahan dan dalam banyak kasus berkembang secara signifikan. Berbagai lembaga pendidikan Islam sejak dari tingkat PAUD, TK, dasar, menengah, dan tinggi tumbuh dan menguat di berbagai penjuru dunia sejak dari negara berpenduduk mayoritas Muslim sampai minoritas, khususnya di dunia Barat.

Pasang surut dan naik pendidikan Islam tidak seragam. Sejumlah faktor memengaruhi dinamikanya mulai dari pengaruh sistem pendidikan modern Eropa sampai perkembangan dan realitas politik, ekonomi, sosial, dan budaya di mana lembaga pendidikan Islam berada.

Perbedaan-perbedaan dalam perkembangan pendidikan Islam meniscayakan kajian komparatif —comparative study of Islamic education, antara satu negara dengan negara lain di mana terdapat berbagai bentuk lembaga pendidikan Islam. Dalam waktu cukup lama, kajian dalam bidang ini umumnya terbatas pada satu negara tertentu. Tidak banyak literatur tersedia dalam bentuk kajian komparatif sampai dasawarsa terakhir di mana mulai muncul sejumlah penelitian dan literatur kajian perbandingan pendidikan Islam.

Dalam konteks itu, buku "Reforms in Islamic Education: International Perspective" (London: Bloomsbury, 2014), yang dieditori Charlene Tan merupakan kontribusi penting. Karya ini mesti disebut senapas, misalnya, dengan Robert W Hefner dan Muhammad Qasim Zaman (eds), "Schooling Islam: The Culture and Politics of Modern Muslim Education" (Princeton: Princeton University Press, 2007). Pada tingkatan regional, perlu dicatat pula, misalnya, Robert W Hefner (ed;), "Making Modern Muslims: The Politics of Islamic Education in Southeast Asia" (Honolulu: University of Hawaii Press, 2009).

Salah satu kekuatan kajian komparatif pendidikan Islam ialah adanya bab-bab khusus tentang pendidikan Islam Indonesia. Ini mencerminkan perubahan cara pandang dan perspektif para peneliti tentang Islam dan dunia Muslim. Sebelumnya —sampai dasawarsa 1980-an— terdapat kecenderungan kuat mereka menafikan untuk memasukkan Islam Indonesia dalam pembahasan. Tetapi belakangan, menguat arus balik bahwa pembahasan tentang Islam dan kaum Muslim tidak lengkap tanpa menyertakan Indonesia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar